Sabtu, 23 Februari 2013

Jenis-Jenis Majas Pertautan

Majas Pertautan
a)  Metonimia
Metonimia berasal dari bahasa Yunani meta berarti ‘bertukar’ + onym berarti ‘nama’. Metonimia adalah sejenis majas yang mempergunakan nama sesuatu barang bagi sesuatu yang lain yang berkaitan erat dengannya. Dalam metonimia sesuatu barang disebutkan tetapi yang dimaksud barang yang lain (Dale (et al), 1971: 234).

Metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan orang, barang, atau hal, sebagai penggantinya. Kita dapat 34 menyebutkan pencipta atau pembuatnya jika yang kita maksudkan ciptaan atau buatannya ataupun kita menyebut bahannya jika yang kita maksudkan barangnya (Moeliono, 1984: 3).

b)  Sinekdoke
Sinekdoke ialah majas yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhannya, atau sebaliknya (Moeliono, 1984: 3).

Kata sinekdoke berasal dari bahasa Yunani synekdechesthai (syn ‘dengan’ + ex ‘keluar’ + dechesthei ‘mengambil, menerima’) yang secara kalamiah berarti ‘menyediakan atau memberikan sesuatu kepada apa yang menyatakan sebagian untuk pengganti keseluruhan (Date (et al), 1971: 236).

c)  Alusi
Alusi atau kilatan adalah majas yang merujuk secara tidak langsung kesuatu peristiwa atau tokoh berdasarkan praanggapan adanya pengetahuan bersama yang dimiliki oleh pengarang dan pembaca serta adanya kemampuan pada pembaca untuk menangkap pengacuan itu. Misalnya, Apakah peristiwa Madium akan terjadi lagi (kilatan yang mengacu ke pemberontakan kaum komunis). Tidak usah menjadi ‘sidik’ untuk membongkar korupsi itu (kilatan yang merujuk ke peristiwa ketika Menteri Penertiban Aparatur Negara menyamar sebagai orang kebanyakan). (Moeliono, 1984: 3).

d)  Eufemisme
 Kata eufemisme berasal dari bahasa Yunani euphemizein yang berarti ‘berbicara dengan kata-kata yang jelas dan wajar ‘; yang diturunkan  dari eu ‘baik’ + phanai ‘berbicara’. Jadi secara singkat eufemisme berarti ‘pandai berbicara; berbicara baik’. (Dale (et al), 1971: 239).

Eufemisme ialah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar, yang dianggap merugikan, atau yang tidak menyenangkan. Misalnya meninggal, bersenggama, tinja, tunakarya. Namun, eufemisme dapat juga dengan mudah melemahkan kekuatan diksi karangan. Misalnya, penyesuaian harga, kemungkinan kekurangan makan, membebastugaskan (Moeliono, 1984: 3-4).

e)  Elipsis
Elipsis ialah majas yang di dalamnya dilaksanakan pembuangan atau penghilangan kata atau kata-kata yang memenuhi bentuk kalimat berdasarkan tata bahasa. Atau dengan kata lain, elipsis adalah penghilangan salah satu unsur penting dalam konstruksi sintaksis yang lengkap (Ducrot & Todorov, 1981: 277).
Penghilangan yang dalam majas elipsis ini dapat berupa:
  1. Penghilangan subyek
  2. Penghilangan predikat
  3. Penghilangan obyek
  4. Penghilangan keterangan
  5. Penghilangan subyek, predikat, dan obyek sekaligus.

g)   Gradasi
Gradasi adalah majas yang mengandung suatu rangkaian dan urutan (paling sedikit tiga) kata atau istilah yang secara sintaksis bersamaan yang mempunyai satu atau beberapa ciri semantik secara umum dan yang diantaranya  paling sedikit sati ciri diulang-ulang dengan perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif ( Ducrot & Todorov, 1981: 277).

Jumat, 22 Februari 2013

Jenis-Jenis Majas Pertentangan

Majas Pertentangan
a)  Hiperbola
Hiperbola adalah sejenis majas yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan – jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya – dengan meksud memberi penekanan pada suatu pernyataaan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya. Majasa ini dapat melibatkan kata-kata, frase, atau kalimat (Tarigan, 1983: 143).

Kata hiperbola berasal dari bahasa Yunani yang berarti pemborosan; berlebih-lebihan; dan diturunkan dari hyper ‘melebihi’ + ballein ‘ melemparkan’. Hiperbola merupakan suatu cara yang berlebih-lebihan mencapai efek, suatu majas yang di dalamnya berisi kebenaran yang direntang-panjangkan. (Dale (et al), 1971: 233).
Dengan kata lain “hiperbola ialah ungkapan yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan : jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya.” (Moeliono, 1984: 3).

b)  Litotes
Litotes adalah majas yang di dalam pengungkapan menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan. Litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan pernyataan yang sebenarnya (Moeliono, 1984: 3).

Litotes, kebalikan dari hiperbola, adalah sejenis majas yang mengandung pernyataan yang dikecil-kecilkan, dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, misanya untuk merendahkan diri. (Tarigan, 1983: 144).
Litotes berasal dari kata Yunani litos yang berarti ‘sederhana’. Litotes, lawan dari hiperbola, merupakan sejenis majas yang membuat penyataan mengenai sesuatu dengan cara menyangkal atau mengingkari kebalikannya (Dale (et al) 1971: 237).

c)   Ironi
Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang bertentangan, dengan maksud berolok-olok.
Maksud itu dapat dicapai dengan mengemukakan:
  1. Makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya,
  2. Ketaksesuaian antara suasana yang diketengahkan dan kenyataan yang mendasarinya,
  3. Ketaksesuaian antara harapan dan kenyataan (Moeliono, 1984:3).

Ironi adalah sejenis majas yang mengimplikasikan sesuatu yang nyata berbeda, bahkan ada kalanya bertentangan dengan yang sebenarnya dikatakan itu. Ironi ringan merupakan suatu bentuk humor, tetapi ironi keras biasanya merupakan suatu bentuk sarkasme atau satire walaupun pembatasan yang tegas antara hal-hal itu sangat sukar dibuat dan jarang sekali memuaskan orang (Tarigan, 1983: 144).

d)   Paronomasia
Paronomasia adalah majas yang berisi penjajaran kata-kata yang berbunyi sama tetapi bermakna lain; kata-kata yang sama bunyinya tetapi berbeda maknanaya (Ducrot & Todorov, 1981: 278).

e)  Paralipsis

Paralipsis adalah majas yang merupakan suatu formula yang dipergunakan sebagai sarana untuk menerangkan bahwa seseorang tidak menyatakan apa yang tersirat dalam kalimat itu sendiri (Ducrot & Todorov, 1981: 278).

f)   Zeugma
Zeugma adalah majas yang merupakan koordinasi atau gabungan gramatis dua kata yang mengandung ciri-ciri semantik yang bertentangan, seperti abstrak dan kongkrit (Ducrot & Todorov, 1981: 279).

Kamis, 21 Februari 2013

Ragam Majas

Ragam Majas
Majas sesungguhnya beraneka ragam dalam kehidupan kita. Majas yang beraneka ragam itu dapat dikelompok-kelompokkan dengan berbagai cara bergantung dari cara memandangnya.
Majas Perbandingan
a)   Perumpamaan
Yang dimaksud dengan perumpamaan di sini adalah padanan kata simile dalam bahasa Inggris. Kata simile berasal dari bahasa Latin yang bermakna ‘seperti’. Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakekatnya berlainan dan yang sengaja kita anggap sama. Perbandingan itu secara eksplisit dijelaskan oleh pemakaian kata seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana, dan sejenisnya.

b)   Metafora
Metafoa berasal dari bahasa Yunani metaphora yang berarti ‘memidahkan’; dari kata meta di atas; melebihi’ + pherein ‘membawa.’ Metafora membuat perbandingan antara dua hal atau benda untuk menciptakan suatu kesan mental yang hidup, walaupun tidak dinyatakan secara implisit dengan penggunaan kata-kata bak, seperti, laksana, ibarat, umpama, sebagai seperti pada perumpamaan (Dale (et al), 1971: 224). Kiasan atau metafora ialah perbandingan yang implisit – jadi tanpa kata seperti atau sebagai – di antara dua hal yang berbeda (Moeliono, 1984: 3).

Metafora adalah pemakaian kata-kata bukan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan (Poerwardarminta, 1976: 648).

Metafora adalah sejenis majas perbandingan yang paling singkat, padat, tersusun rapi. Di dalamnya terlibat dua ide: yang satu adalah suatu kenyataan, sesuatu yang dipikirkan, yang menjadi obyek; dan yang satu lagi merupakan perbandingan terhadap kenyataan tadi; dan kita menggantikan yang belakangan ini menjadi yang terdahulu tadi (Tarigan; 1983: 141).

c)  Personifikasi
Personifikasi berasal dari bahasa Latin persona (‘orang, pelaku, aktor, atau topeng yang dipakai dalam drama’) + fic (‘membuat’). Karena itulah maka apabila kita mempergunakan personifikasi, kita memberikan ciri-ciri atau kualitas-kualitas pribadi orang kepada benda-benda yang tidak berwarna ataupun kepada gagasan-gagasan, (Dale (et al), 1971: 221).

Dengan kata lain, pengingsanan atau personifikasi ialah jenis majas yang melekatkan sifat-sifat insane kepada barang yang tidak bernyawa dan idea yang abstrak.

d)  Alegori
Kata alegori berasal dari bahasa Yunani allegorein yang berarti ‘berbicara secara kiasan’ diturunkan dari allos ‘ yang lain’ + agoreuien ‘berbicara’.

Alegori adalah cerita yang diceritakan dalam lambang-lambang. Merupakan metapora yang diperluas dan berkesinambungan, tempat atau wadah obyek-obyek atau gagasan-gagasan diperlambangkan. Alegori kerapkali mengandung sifat-sifat moral atau spiritual manusia. Biasanya alegori merupakan cerita-cerita yang panjang dan rumit dengan makna, atau tujuan yang terselubung.

e)  Antitesis
Secara kalamiah antitesis berarti ‘lawan yang tepat’ atau ‘pertentangan yang benar-benar (Poerwadarminta, 1976: 52).

Antitesis adalah sejenis majas yang mengadakan komparasi atau perbandingan antara dua antonim (yaitu kata-kata yang mengandung ciri-ciri semantik yang bertentangan). (Ducrot & Todorov, 1979: 277).   

Rabu, 20 Februari 2013

Pengertian Majas

Pengertian Majas
Majas selalu merupakan paralelisme makna. Dengan bantuan suatu citra, diungkapkan sesuatu yang lain, yaitu suatu gagasan atau pengertian. Ini berlaku, baik bagi majas yang merumuskan paralelisme makna secara tekstual (baik pembanding maupun yang disbanding hadir dalam teks) maupun bagi metapora dalam arti sebenarnya, yang hanya menyebutkan citra (pembanding). Dalam hal terakhir apa yang diacu oleh citra (yang disbanding) harus dibangun oleh pembaca (Luxemburg, 1989: 94).

Majas adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tulisan.

Majas adalah gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran dari pengarang.
Majas (figure of speech) ialah pilihan kata tertentu sesuai dengan maksud penulis atau pembicara dalam rangka memperoleh aspek keidahan.

Para pembicara dan para penulis yang efektif, benar-benar memanfaatkan bahasa kias atau majas untuk menjelaskan gagasan-gagasan mereka. Sarana retorik klasik telah dimanfaatkan oleh novelis Romawi Cicero dan Suetonicus yang memakai figura dalam pengertian ‘bayangan, gambaran, sindiran, kiasan’.

Majas, kiasan, atau ‘figure of speech’ adalah bahasa kias, bahasa indah yang dipergunakan untuk meninggikan serta meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Pendek kata, penggunaan majas tertentu dapat merubah serta menimbulkan nilai rasa atau konotasi tertentu (Dale (et al); 1971: 220).

Majas atau ‘figurative language’ adalah bahasa yang dipergunakan secara imajinatif, bukan dalam pengertian yang benar-benar secara kalamiah saja (Warriner (et al); 1977: 602).

Majas merupakan retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan ataupun mempengaruhi para penyimak dan pembaca. Kata retorik berasal dari bahasa Yunani rhetor yang berarti orator atau ahli pidato.pada masa Yunani kuno, retorik memang merupakan bagian penting dari suatu pendidikan dan oleh karena itu aneka ragam majas sangat penting serta harus dikuasai benar-benar oleh orang-orang Yunani dan Romawi yang telah memberi nama bagi aneka seni persuasi ini.

General & Specific Characteristics of Research

       General & Specific Characteristics of Research

 Written by Yogesh Kumar Singh in Fundamental of Research Methodology and Statistic, Mumbai: New Age International Publisher, 2006. 


I. General
 The following characteristics may be gathered from the definitions of ‘Research’
1.  It gathers new knowledge or data from primary or first-hand sources.
2.  It places emphasis upon the discovery of general principles.
3.  It is an exact systematic and accurate investigation.
4.  It uses certain valid data gathering devices.
5.  It is logical and objective.
6.  The researcher resists the temptation to seek only the data that support his hypotheses.
7.  The researcher eliminates personal feelings and preferences.
8.  It endeavours to organise data in quantitative terms.
9.  Research is patient and unhurried activity.
10.  The researcher is willing to follow his procedures to the conclusions that may be unpopular
    and bring social disapproval.
11.  Research is carefully recorded and reported.
12.  Conclusions and generalisations are arrived at carefully and cautiously.

II. Specific
The following are the main characteristics of research
1. A sound philosophy of social studies as the basis of research
2. Research is based on insight and imagination
3. Research requires an inter-disciplinary approach
4. Research usually employs deductive reasoning process
5. Research should come out of a desire to do things better
6. Research is not as exact as research in physical science
7. Research is not the field of the specialist only
8. Research generally requires inexpensive material
9. Research is based on the subjectivity and intangibility of social phenomena
10. Research is perhaps incapable of being dealt through empirical method
11. Research is based on inter dependence of causes and effect
12. Research cannot be a mechanical process

Well, I hope today's posting will be useful for all of us. Amien.